• Kamis, 19 Mei 2022

Setelah Divonis Bebas, Jaksa Penuntut Umum Ajukan Kasasi untuk Aan Aminah

- Rabu, 11 Agustus 2021 | 13:00 WIB
Ilustrasi Hukum (Sumber: Freepik.com)
Ilustrasi Hukum (Sumber: Freepik.com)

KULTURNATIV.COM – Kasus Aan Aminah, mantan buruh tekstil CV Sandang Sari yang menjadi terdakwa penganiayaan seorang satuan pengamanan (satpam) di tempatnya bekerja kini memasuki babak baru. Aan sebelumnya dikenakan Pasal 351 ayat 1 KUHP penganiayaan biasa dengan ancaman hukuman penjara maksimal 2 tahun 8 bulan.

Peristiwa ini terjadi karena Aan dituduh menggigit dan mencakar Sekuriti CV Sandang Sari, Yadi Haryadi, yang hendak menghempitnya di gerbang pabrik. Saat itu Aan bersama buruh lainnya menuntut pembayaran tunggakan gaji dan tunjangan hari raya. Aan bersama 10 kawannya dipecat sepihak oleh perusahaannya karena dianggap telah melanggar peraturan perusahaan dan disiplin kerja. Selain itu, mereka juga disebut-sebut sebagai provokator.

Aan dilaporkan ke Polsek Antapani Kota Bandung pada tanggal 7 Juli 2020, setelah itu persidangan dimulai pada 2 Maret 2021 yang berujung pada Majelis Hakim mengabulkan permohonan pengalihan Aan dari rutan menjadi tahanan kota. Hal tersebut atas pertimbangan pada kondisi kesehatan yang sedang dialami oleh Aan.

Baca Juga: Kisah Niki Suryaman, Rumah Bintang, dan Semangat Saling Bantu

Pada 6 Juli 2021, Pengadilan Negeri Bandung memutuskan Aan Aminah telah lepas dari semua tuntutan setelah Majelis Hakim membacakan putusan No. 162/Pid.B/2021/PN.Bdg. Dalam putusannya, Majelis Hakim menyatakan bahwa meskipun Aan Aminah terbukti melakukan penggigitan terhadap satpam CV Sandang Sari, tindakan tersebut tidak dapat dipidanakan karena dalam faktanya Aan Aminah melakukannya sebagai upaya untuk membela diri dari serangan fisik.

Meski demikian, pada 12 Juli 2021 Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bandung mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung yang bermaksud untuk membatalkan putusan Pengadilan Negeri No. 162/Pid.B/2021/PN.Bdg. Jaksa Penuntut Umum bersikukuh untuk menjerat Aan dengan dakwaan semula Tindak Pidana Penganiayaan Pasal 351 ayat 1 KUHP.

Rangga Rizky, selaku Kuasa Hukum Aan Aminah, mengatakan bahwa Jaksa Penuntut Umum menganggap Majelis Hakim telah melakukan kekeliruan dalam peraturan hukum. Majelis Hakim tidak mempertimbangkan keterangan saksi yang dihadirkan dan bukti petunjuk lainnya. Hal tersebut mengakibatkan Jaksa Penuntut Umum merasa keberatan dengan putusan Majelis Hakim.

Selanjutnya, tim Kuasa Hukum Aan melakukan kontra memori kasasi yang menjawab semua dalil-dalil yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum dalam memori kasasinya. Rangga Rizky mengatakan, dalil-dalil yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum hanyalah sebuah alasan belaka.

“Jadi, menurut kami, dalil-dalil yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum sangat mengada-ngada karena Majelis Hakim sudah mempertimbangkan itu. Jadi kami menganggap justru Jaksa ini mengaburkan fakta yang sudah terang benderang pada saat persidangan," ujar Rangga.

Halaman:

Editor: Faris Fakhriansyah

Tags

Terkini

Terpopuler

X