• Kamis, 2 Desember 2021

Cara Menghargai Sesama, Dengan Nasi Bungkus Dua Ribuan

- Sabtu, 6 November 2021 | 18:06 WIB
Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan Ismaya bisa menjadi sebuah pemantik bagi solidaritas lainnya untuk melakukan hal yang sama. Foto dan Teks: (Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com) 
Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan Ismaya bisa menjadi sebuah pemantik bagi solidaritas lainnya untuk melakukan hal yang sama. Foto dan Teks: (Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com) 

KULTURNATIV.COM - Deru suara susuk beradu dengan katel disebuah Warung Suroboyo pagi itu, para puan nampak sibuk membungkus makanan yang sudah siap disajikan. Aroma makanan ditambah bumbu khas yang ditumbuk semerbak menguar ke udara, tiga orang pekerja terlihat sibuk meracik bumbu dan menumis sayuran diatas katel.

Setelah sayuran selesai ditiriskan, orek tempe, tahu, serta tempe diolah dalam satu kertas nasi yang akan dilipat oleh ketiga orang itu, satu-persatu bahan mulai dimasukkan sayuran bersama dengan orek tempe, tahu dan tempe di atas nasi gurih. Bungkus nasi yang sudah selesai lalu, dimasukan kedalam satu wadah plastik berukuran besar yang nantinya akan diberikan kepada pekerja jalanan.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan Ismaya bisa menjadi sebuah pemantik bagi solidaritas lainnya untuk melakukan hal yang sama. Foto dan Teks: (Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com) 

Adalah Ismaya Safitri, pegiat sosial yang berinisiatif untuk membuat sebuah gerakan warga bantu warga bernama nasi bungkus dua ribu. Bertempat di sudut Jalan Natuna, Kota Bandung, 29 Oktober 2021, yang merupakan rumah milik ayahandanya serta menjadi tempat ia memulai gerakan tersebut. Berawal dari awal tahun 2020, Ismaya serta temannya membagikan nasi bungkus secara gratis.

Namun, ada sebuah kejadian yang membuat hatinya tersentak, maksud hati baik dengan membagikan nasi bungkus secara gratis tak mendapatkan balasan yang pantas dari orang yang menerima. Nasi bungkus yang ia berikan dibuang begitu saja oleh penerima dengan alasan tidak suka makanan itu.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan Ismaya bisa menjadi sebuah pemantik bagi solidaritas lainnya untuk melakukan hal yang sama. Foto dan Teks: (Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com)

Dari situlah, ia memikirkan bagaimana agar bisa mendidik orang menjadi lebih menghargai makanan, karena proses membuat yang tidak gampang dan memerlukan waktu yang lama. Muncul satu gagasan dengan menjual nasi bungkus itu seharga Rp 2 ribu saja. Namun, jika orang yang membutuhkan benar-benar tidak mempunyai uang maka Ismaya akan memberikannya secara gratis.

Ismaya yang dibantu oleh ketiga orang pekerjanya yang membuat nasi bungkus dua ribu itu, adalah korban PHK dari berbagai pekerjaan. Lalu, mereka diberdayakan oleh dirinya untuk membuat nasi bungkus dua ribu yang dimulai pada pagi hari jam 5 hingga siang hari jam 11.

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, gerakan warga bantu warga seperti yang dilakukan Ismaya bisa menjadi sebuah pemantik bagi solidaritas lainnya untuk melakukan hal yang sama. Foto dan Teks: (Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com) 

Halaman:

Editor: Syarif Pulloh Anwari

Tags

Terkini

Gistara : Ruang Bermusik Bagi Gen Milenial

Rabu, 17 November 2021 | 21:07 WIB

Film Richard Jewell: Framing Media dalam Pembuatan Berita

Selasa, 28 September 2021 | 13:16 WIB

Sejarah Klub Sepak Bola Persib Bandung

Jumat, 24 September 2021 | 06:48 WIB
X