• Kamis, 19 Mei 2022

Damar Kurung Sebagai Tradisi Sambut Ramadan

- Rabu, 6 April 2022 | 13:00 WIB
Novan Effendy memperlihatkan  damar kurung saat pelatihan pembuatan damar kurung (lentera) di Jalan Terusan Cibogo Atas, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (5/4/22). Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com
Novan Effendy memperlihatkan damar kurung saat pelatihan pembuatan damar kurung (lentera) di Jalan Terusan Cibogo Atas, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (5/4/22). Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com

KULTURNATIV.COM - Jika dalam tradisi masyarakat Tioghoa lampion adalah hal yang wajib untuk dipamerkan, ada hal yang serupa yang dimiliki oleh masyarakat muslim di Gresik yaitu Damar Kurung. Lentera Damar Kurung ini dipopulerkan oleh Masmundari dan dinyalakan tiap malam saat bulan Ramadan.

Damar kurung adalah sebuah lentera kayu berbentuk segi empat, jika dilihat dari sekilas menyerupai huruf M, di sisi-sisinya terdapat empat hingga delapan gambar cerita. Gambar yang sudah dijadikan pola akan diwarnai dengan menggunakan krayon atau atau cat akrilik agar tidak mudah luntur. Secara arti damar adalah penerang, sedangkan kurung adalah penutup.

Pada zaman dahulu di Kabupaten Gresik, setiap menyambut bulan suci Ramadan anak-anak desa menggunakan damar kurung ketika hendak berangkat salat tarawih. Selain itu, lentera ini juga dinyalakan di rumah-rumah saat malam hari ketika zaman dahulu belum adanya penerangan di sekitar kampung. Damar kurung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional pada tahun 2017 silam.

Saat ini di Bandung, seorang seniman damar kurung asal Gresik yakni Novan Effendy, melakukan pelatihan damar kurung kepada warga Kampung Cibogo, Jalan Terusan Cibogo Atas, Kota Bandung.

Novan Effendy mengajarkan pembuatan damar kurung saat pelatihan pembuatan damar kurung (lentera) di Jalan Terusan Cibogo Atas, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (5/4/22). Dimas Rachmatsyah/Kulturnativ.com

"Jadi ini adalah bagian dari program Beyond Project and Spaces Art and Cultural Management Fellowship 2022 yang diinisiasi oleh Goethe Institut Southest Asia.” ungkap Novan saat ditemui Kulturnativ.com, Selasa (5/4/22).

Novan adalah salah satu perwakilan Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya yang telah dibuatnya beserta lima orang peserta lainnya dari dua negara yakni Indonesia dan Thailand.

“Jadi, saya lagi menjalani residensi untuk kelola seni budaya. Kebetulan latar belakang saya adalah seniman damar kurung sehingga damar kurung dibawa ke Bandung sebagai project perluasan dan pengembangan karena damar kurung menjadi warisan budaya nasional.” kata Novan

Novan memulai kegemarannya terhadap damar kurung pada saat ia melihat anak-anak kecil di Gresik diberikan oleh orangtua mereka sebuah lentera ketika datangnya bulan Ramadan. Berawal dari itu, Novan mulai menggemari damar kurung hingga memproduksi lentera sampai sekarang.

Halaman:

Editor: Syarif Pulloh Anwari

Tags

Terkini

Damar Kurung Sebagai Tradisi Sambut Ramadan

Rabu, 6 April 2022 | 13:00 WIB

Sejarah dan Asal Usul Hari Batik Nasional 2 Oktober

Minggu, 3 Oktober 2021 | 18:59 WIB

Simpang Siur Meja Putar ‘Lazy Susan’

Jumat, 24 September 2021 | 18:02 WIB

Tradisi Budaya Konsumsi Minuman Beralkohol di Nusantara

Jumat, 17 September 2021 | 17:04 WIB

Ragam Konsumsi Masyarakat Mesir Kuno

Selasa, 7 September 2021 | 16:21 WIB

Terpopuler

X